Nanggung Anak, Istri, dan Orang Tua – Berkah atau Musibah ?

NANGGUNG KELUARGA

Pernah kenal dengan seorang pejuang, sebut saja namanya Fandi. Di umurnya yang menginjak 35 tahun dan sudah berkeluarga ini, dia harus terus berjuang demi menghidupi keluarganya. Sebagai tulang punggung keluarga, tidak hanya istri dan anaknya yang berusia 8 tahun yang ditanggung, tetapi juga orang tua Fandi.

Istri Fandi bekerja juga, sedangkan orang tua Fandi sudah tidak bekerja lagi saat ini. Mereka membantu Fandi dan istrinya mengurus anaknya. Sayangnya, orang tua Fandi tidak memiliki tabungan pensiun dan penghasilan tambahan lainnya, sehingga Fandi sebagai anaknya harus menyokong finansial orang tuanya, sembari merencanakan masa depan anaknya dan dia sendiri.

Apakah kamu mengalami kondisi serupa ?

KAMU YANG TERHIMPIT BEBAN 2 GENERASI

Perkenalkan sandwich generation, istilah bagi kamu yang harus menanggung beban 2 generasi. Generasi kebawah, yaitu anak; dan generasi keatas, yaitu orang tua. Istilah ini tentunya tidak datang semata-mata, melainkan karena memang banyak sekali generasi yang mengalami hal ini. Seringkali ditemui mereka yang menanggung 2 generasi ini mengalami stress berlebih karena harus menambah pikiran mereka dengan beban finansial ini. Bagaimanapun, keluarga tetap nomor satu. Membantu dan merawat orang tua adalah kewajiban yang sangat baik. Tapi, di sisi lain, kamu harus berpikir strategi untuk mengurus keluarga dan masa depanmu juga.

FAKTA MIRIS MENGENAI SANDWICH GENERATION

Istilah sandwich generation tidak hanya pertanggungan untuk orang tua dan anak, tetapi juga bagi mereka yang menanggung saudaranya (sepupu, keponakan, om, tante, maupun mertua). Berdasarkan data tahun 2013 dari Pew Research Center, sekitar 47% orang dengan usia 40 – 50 tahun memiliki orang tua berusia 65 tahun keatas dan sedang membesarkan anak dengan usia 18 tahun keatas. Sekitar 15% dari mereka harus bertanggung jawab terhadap finansial orang tua dan anaknya.

Disamping itu, istilah tersebut juga berlaku bagi kamu yang single dan menanggung orang tua atau saudaramu. Riset lain dari American Psychology Association mengungkapkan lebih dari 50% responden per 10 orang mengalami stress berat akibat beban sandwich generation ini. Mirisnya lagi, sebagian besarnya adalah responden perempuan.

Tentu saja, sandwich generation terjadi karena tertanggung tidak mempersiapkan beberapa poin finansial, seperti asuransi, biaya pendidikan, maupun biaya pensiunnya sejak dini. Mirisnya, mereka beranggapan “kan saya masih muda” atau “kan nanti ada anak atau dia yang bisa nanggung saya”. Usia bukanlah jaminan kamu dapat bekerja terus. Begitu pula anak, pasangan, saudara, maupun orang tua bukanlah jaminan kamu aman secara finansial.

EFEK DARI BEBAN SANDWICH GENERATION

Tentu saja bila tidak ada solusinya, setiap beban akan memberikan dampak tidak baik, mulai dari kesehatan hingga kondisi psikologis keseluruhan. Didiamkan pun belum tentu menjadi solusi, karena stress akan memicu keluhan fisik dan mental. Dari cakupan luas, kondisi ini dapat menyebabkan perceraian karena adanya benturan kepentingan, baik dari sisi orang tua, suami/istri – anak, maupun pribadi.

*
Sandwich generation ini tidak selalu menjadi masalah karena kerap kali ditemukan bahwa ada yang secara definisi termasuk sandwich generation, tapi tetap bisa menyisihkan untuk masa depan anak, istri, maupun rencana keuangan orang tuanya dengan lancar. Lalu, apakah kamu termasuk sandwich generation dan butuh tips menyelesaikannya dengan terencana ? Yuk, kepoin pembahasan selanjutnya.

About Greaty Kristanto

Seorang perencana, penulis, dan penikmat hidup yang gemar akan travelling, kuliner, dan uang. Dari 3 hal tersebut, seringkali terasa dinamika untuk menyampaikan hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal tentang bagaimana membuat kombinasi antara perencanaan dan nikmatnya hidup, dalam tulisan yang dapat memberikan pengalaman bagi teman-teman pembaca.

View all posts by Greaty Kristanto →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *