5 Alasan Kenapa Kamu Tetap Butuh Asuransi

Butuh Asuransi

FUNDpeople, rasanya hampir semua orang dengan usia produktif dan berpenghasilan pernah ditawari oleh agen asuransi minimal sekali hingga dua kali. Dengan iming-iming uang pertanggungan yang besar maupun nominal investasi masa depan yang terlihat menarik, seringkali membuat kita bingung, apakah kita benar-benar membutuhkannya atau tidak. Tentu saja kita telah mengetahui konsep asuransi sebagai bentuk proteksi. Tapi, apakah kamu telah benar-benar paham apa saja yang perlu dilindungi? Apakah kamu telah mengambil polis yang benar sesuai risiko yang mungkin kamu hadapi? Atau sebenarnya kamu sedang membuang-buang anggaranmu?

Kali ini, mari kita bahas 5 alasan kenapa kamu tetap butuh asuransi yang sesuai dengan kebutuhan dan risiko yang mungkin kamu hadapi dalam hidupmu.

PERIKSA KESEHATAN KE DOKTER TIDAK MURAH

Tentu kita tidak pernah berharap ingin sakit, tetapi realita juga mengatakan kita tidak bisa selalu sehat. Pasti ada beberapa kali kita jatuh sakit dan memerlukan obat maupun harus periksa kesehatan ke dokter. Sekali periksa ke dokter dan atau tebus obat di apotik, tentu ada nominal yang tidak sedikit. Bila kita tarik proyeksi dalam 1 tahun, kira-kira berapa yang telah kamu habiskan? Belum lagi kalau biayanya ke dokter naik karena pengaruh inflasi. Mau pakai dana darurat terus? Salah. Dana darurat tidak dapat selalu diandalkan untuk risiko kesehatan karena intensitas risiko kesehatan tidak dapat kita prediksi dan nominalnya cenderung besar.

Oleh karena itulah, kamu perlu asuransi dengan perlindungan kesehatan. Berbeda dengan perlindungan penyakit kritis, perlindungan kesehatan ditujukan untuk menanggung risiko kesehatan yang tidak termasuk dalam kategori penyakit kritis, seperti penyakit demam, tipes, muntaber, dan lainnya. Kalau kita ambil contoh sekali berobat ke dokter beserta obatnya akan menghabiskan 500 ribu, bagaimana bila sepanjang tahun kamu mengalami risiko kesehatan sebanyak 5 kali? Tentu kamu telah menghabiskan dana 2,5 juta. Dana yang bukan sedikit, bukan?

Mungkin saat membaca bagian ini, akan ada yang berpikir “kalo preminya sebulan 500 ribu dan risiko kesehatan hanya memakan biaya 1,5 juta selama setahun, maka kita rugi banyak dong?”. Rugi atau tidak itu tergantung bagaimana kamu berpikir. Apakah kamu dapat prediksi risiko kesehatanmu dalam 1 tahun? Mungkin juga ada pemikiran, “kan kita bisa jaga kesehatan agar terhindar dari risiko kesehatan”. Pertanyaannya, apakah kamu bisa jamin jaga kesehatan bisa benar-benar menghindari risiko kesehatan sepanjang tahun? 

RISIKO PENYAKIT KRITIS YANG SANGAT MENYERAMKAN

“Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Inilah pepatah yang kamu harus pahami untuk alasan kedua ini. Sekali lagi, tidak ada yang ingin sakit. Tetapi, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Risiko penyakit kritis kurang lebih sama seperti risiko kesehatan, hanya saja jenis penyakitnya yang berbeda, seperti jantung koroner, stroke, kanker, diabetes, dan lainnya. 

Biasanya untuk dapat pertanggungan ini, kamu harus mencermati apa saja penyakit yang ditanggung, beserta rincian perawatannya. Pastikan risiko yang mungkin kamu hadapi (terlebih bila ada potensi genetik) terlindungi pada bagian ini. Pada pertanggungan ini, didapati pertanggungan hingga ke luar negeri. Oleh karena itu, sesuaikan dengan minat dan kondisi keuangan kamu bila ingin mengambil pertanggungan ini.

Sebagai catatan, pertanggungan pada risiko kesehatan dan penyakit kritis dipengaruhi oleh usia dan rekam medis saat ini. Misalkan, A, B, dan C adalah 3 orang dengan risiko penyakit yang sama. A dengan potensi genetik dan usia muda, akan berbeda polisnya dengan B dengan riwayat medis rawat inap dan usia lebih tua; dan berbeda pula dengan C dengan riwayat medis rawat inap dengan usia muda. Oleh karena itu, medical check up rutin dapat menjadi bahan pertimbangan kamu untuk mengambil pertanggungan ini.

PENDIDIKAN ANAK MENJADI BAHAN PERTIMBANGAN

Selain risiko kesehatan dan penyakit kritis, ada juga risiko meninggal dunia atau jiwa. Risiko ini menjadi pegangan untuk kamu yang menanggung beban finansial seseorang, entah orang tua, keluarga (suami/istri dan anak), maupun saudara/kerabat. Dalam mengukur berapa uang pertanggungan yang diperlukan, kamu harus berangkat dari tujuan keuangan kamu.

Seperti contoh tujuan keuangan yang cukup krusial adalah pendidikan anak. Pendidikan anak mengalami inflasi minimal sebesar 15% setiap tahunnya. Lalu, bagaimana cara mensiasatinya? Tentu ada beberapa cara, bisa menabung maupun investasi. Tetapi, bila kamu sebagai sumber penghasilan keluargamu untuk menabung maupun berinvestasi mengalami risiko meninggal dunia, bagaimana cara memenuhi tabungan atau investasi pendidikan anak tersebut? Dengan adanya pertanggungan jiwa, nilai perwujudan pendidikan anak nantinya dapat terpenuhi.

PEMENUHAN TUJUAN KEUANGAN LAINNYA

Selain pendidikan anak, masih ada beberapa tujuan keuangan lain yang menjadi bahan pertimbangan, seperti kebutuhan dasar tahunan, dana pensiun, rumah, maupun ibadah. Masing-masing tujuan keuangan memiliki nominal perkiraan yang dapat ditaksir angkanya. Inflasi tiap tujuan keuangan pun berbeda, mulai dari 5% per tahun untuk kebutuhan dasar, dana pensiun, dan traveling; hingga 10-15% per tahun untuk properti. Dengan menghitung perkiraan nominal di masa depan, calon pemegang polis asuransi dapat memprediksi “harga atas dirinya”. Harga tersebutlah yang menjadi nilai Uang Pertanggungan (UP) dari pihak asuransi. UP tersebut nantinya diberikan kepada ahli waris sebagai bekal untuk memenuhi tujuan keuangan yang telah direncanakan.

BENCANA DAPAT DATANG SEWAKTU-WAKTU

Bencana yang dimaksudkan disini ditujukan untuk kepemilikan asuransi tambahan diluar asuransi wajib yang harus dimiliki seseorang. Bencana tersebut dapat berupa kebakaran rumah, kerusakan akibat bencana alam, kerusakan rumah akibat bencana tertentu (kecelakaan pesawat, kerusuhan, dll), maupun kerusakan kendaraan. Seperti yang sebelum-sebelumnya, risiko datang begitu saja dan tidak dapat diprediksi. Nominal yang mungkin datang dari risiko atas properti maupun kendaraan juga dapat merusak arus kas bulanan kita. Untuk menyiasatinya, risiko tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan kita dalam menambah asuransi properti atau kendaraan sebagai bentuk perlindungan.

*

5 Alasan yang telah disebutkan diatas merupakan beberapa contoh untuk menjadi pertimbangan kamu dalam memiliki asuransi. Tentu saja, jadikan asuransi sebagai bentuk proteksi, bukan sebagai ajang gengsi dalam kehidupanmu. Apalagi, kalau kamu memiliki asuransi tanpa terlebih dulu memperhitungkan potensi pertanggungan untuk proteksi dirimu. Masih penasaran atau bingung? Konsultasi dulu aja sama dokter keuanganmu dari FUNDtastic.

Insurance is one of your financial protections, not your collection.

 

 

About Greaty Kristanto

Seorang perencana, penulis, dan penikmat hidup yang gemar akan travelling, kuliner, dan uang. Dari 3 hal tersebut, seringkali terasa dinamika untuk menyampaikan hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal tentang bagaimana membuat kombinasi antara perencanaan dan nikmatnya hidup, dalam tulisan yang dapat memberikan pengalaman bagi teman-teman pembaca.

View all posts by Greaty Kristanto →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *